Luangkan waktu untuk keluarga dan orang yang kau sayangi. Bersantai sejenak tak akan memakan semua waktu berhargamu. Hidup adalah kegelapan jika tanpa hasrat dan keinginan. Dan semua hasrat-keinginan adalah buta, jika tidak disertai pengetahuan. Dan pengetahuan hampa jika tidak diikuti pelajaran. Dan setiap pelajaran akan sia-sia jika tidak disertai cinta.

Minggu, 14 November 2010

FEMINISME DALAM NILAI OBJEKTIF PADA TOKOH PUTRI Dalam Novel Hubbu karya Mashuri

1. Pengantar
Dalam novel “ Hubbu “ karya Mashuri, tokoh utama, Jarot yang nama aslinya Abdullah Sattar, adalah sosok yang sangat “ nyentrik “. Selain punya ketertarikan dan rasa ingin tahu yang sangat besar terhadap hubungan antara agama Islam dan aliran kepercayaan Jawa, ia juga cerdas dan sangat pandai. Sehingga saat kuliah di Surabaya,  Jarot disukai oleh cewek, Putri namanya, yang sangat cantik dan tidak kalah cerdasnya. Tetapi sayang, setelah kenal dekat dan akrab serta keduanya saling suka, Jarot mengetahui bahwa Putri adalah sosok yang rapuh dan suram kehidupannya dengan mulut Putri sendiri. Disuatu saat pula Putri bercerita tentang keluarganya dan melambangkan dirinya dengan mawar hitam atau bisa ditafsirkan kegelapan dibalik keindahan sosok Putri yang serba kaum jetset punya.
Disini saya akan membahas dengan pendekatan objektif bagaimana perjalanan tokoh Jarot dan Putri dalam sub bab “ Mawar Hitam “ yang mana pada bagian ini Putri memaparkan semua yang dihadapi dalam kehidupannya selama ini.
2. Pembahasan
Pendekatan objektif adalah pendekatan yang memandang prosa fiksi sebagai karya yang sudah utuh dan mandiri, sehingga pembaca hanya mencermati segala sesuatu yang terdapat dalam prosa fiksi itu sendiri.

v  Tema
Tema ialah permasalahan pokok yang merupakan titik tolak pengarang dalam menyusun cerita, sekaligus permasalahan yang ingin dipecahkan pengarang melalui karya. Dalam novel sub bab ini pengarang ingin mengangkat tema Feminisme.
            Feminisme secara etimologi merupakan suatu proses panjang yang muncul dari berbagai rasa sakit dan kepahitan, serta kegetiran akan ketimpangan yang berlangsung didalam tatanan masyarakat, baik yang berlangsung di ranah public maupun yang berlangsung di ranah domestic, di ranah pribadi (Priyatna, 1999). Tujuan feminisme itu sendiri adalah meningkatkan kedudukan dan derajat perempuan agar sama atau sejajar dengan kedudukan serta derajat laki-laki.
            “ Untung pula Ibu tidak memikirkan Ayah yang begitu doyan perempuan muda.
            Untung juga dalam hidupku, aku tidak kekurangan apa-apa. Bisnis ang dirintis Ibuku menuai perkembangan di luar perkiraan orang lain, bahkan ibuku sendiri. Dari sinilah kami bisa melupakan duka dan sedih yang seharusnya bisa menyeret kami menjadi penghuni sebuah kamar di rumah skit jiwa.” (Hubbu: 70-71)
Dari paparan di atas jelas sekali bahwa tokoh ibu Putri tidak lemah dan rapuh dalam mengurus rumah tangganya, meski tidak ada peranan laki-laki yaitu ayah Putri. Showalter (Suwardi, 2003: 148) berpendapat bahwa ada tiga fase tradisi penulisan sastra wanita. Pertama, para penulis wanita menghendaki bahwa wanita tetap memiliki posisi terhormat. Kedua, penulis wanita telah bersikap radikal, yang maksudnya wanita berhak memilih cara yang mana yang tepat untuk berekspresi. Ketiga, hasil tulisan wanita disamping mengikuti pola terdahulu juga semakin sadar diri.
            “ Jarot, sebenarnya aku ingin berharap kepadamu, tetapi aku begitu yakin harapanku adalah sebuah beban. Terutama bagimu. Aku tak ingin membebani orang lain, bahkan orang-orang terkasihku. Itulah prinsip hidupku. Aku ingin membuat orang yang aku kasihi tersenyum dan bahagia di sampingku. Aku ingin tidak membebani mereka dengan persoalanku, terutama untuk orang-orang terkasihku, juga kau. Aku ingin kau tetap tersenyum setiap bertemu aku. Aku ingin kau selalu bahagia bila kita berjumpa. “ (Hubbu : 73)

Dari kutipan di atas tokoh Putri secara tidak langsung ingin disayang dan dimengerti. Meskipun dia tidak ingin membebani orang lain. Di lain pihak wanita juga lemah dan rapuh jika tidak kuat dengan permasalahan yang sedang dihadapi. Pada tokoh Putri digambarkan seorang perempuan yang berkepribadian kuat dan cerdas menurut Jarot pada kesan pertama, tetapi dia adalah wanita yang rapuh.
            “ kukira perempuan yang terdidik dan memiliki wawasan atau perempuan saat ini memang seharusnya begitu, berkepribadian kuar dan cerdas.
            Ternyata itu hanya kesan awalku. Ketika aku dekat dengannya dan memosisikan diriku sebagai bejana atau tempat sampah baginya, aku mendapati barbagai hal yang tak kuduga. Pribadi Putri ternyata rapuh .” (Hubbu : 59-60)

v  Tokoh
Dalam suatu prosa fiksi selalu ada sejumlah pelaku yang mendukung dan pelaku-pelaku tertentu yang mendukung peristiwa sehingga mampu menjalin suatu cerita disebut tokoh. Dalam suatu cerita pasti ada tokoh utama dan tokoh pariferal. Tokoh utama pada sub bab “ Mawar Hitam” dalam novel ini adalah Putri dan Jarot. Sedangkan tokoh pariferal adalah Savitri, Teguh, dan Istiqomah.  
v  Alur
Alur adalah sebuah rangkain peristiwa dapat terjalin berdasarkan atas urutan waktu, urutan kejadian, atau hubungan sebab-akibat. Jalin-menjalinnya berbagai peristiwa, baik secara linier atau lurus maupun secara kausalitas, sehingga mambentuk satu kesatuan yang utuh, padu, dan bulat pada prosa fiksi. Alur yang digunakan dalam sub bab ini adalah maju.
            “ Pergantian tahun baru 1994-1995
               Kita ke Batu, yuk ! ajakku ” (Hubbu:64)

Kutipan di atas adalah ajakan Jarot kepada Putri saat akan pergantian tahun dari tahu ’94 ke tahun ’95. Berarti pada malam awal tahun baru.
            “  Surabaya, akhir Januari 1995
            Aku lipat surat. Aku pandangi langit Surabaya yang garang siang itu. Memang sudah dua bulan ini Surabaya serasa dipanggang matahari. Masih terngiang surat dari Istiqomah.” (Hubbu: 74)

Urutan waktu yang ada penuturan diatas sesuai dengan semestinya. Tidak melompat-lompat.
v  Setting
Setting adalah lukisan peristiwa atau kejadian yang menimpa atau dilakukan oleh satu atau bebrapa orang tokoh pada suatu waktu tertentu dan pada tempat tertentu. Ada tiga setting pada sub bab dalam novel ini yaitu
ü  Setting  tempat adalah tempat terjadinya peristiwa dalam suatu cerita. Dalam sub bab ini adalah kampus, kota Batu ( Malang), Alas Abang (kantor pos, rumah istiqomah)
ü  Setting waktu adalah penempatan waktu cerita. Pada sub bab ini ada enam bagian. Pertama saat pertama kali Jarot kenal dengan Putri dan kencan bareng. Kedua saat Putri dan Jarot membahas masalah puisi kesukaan masing-masing. Ketiga saat Jarot mengajak Putri ke Batu. Keempat adalah saat Putri menceritakan semua perihal kehidupan dan keinginan-keinginannya (prinsipnya). Kelima Jarot menerima surat dari Istiqomah dan ada yang menyabotasenya. Keenam adalah keinginan Istiqomah ingin tetap mempertahankan cintanya kepada Jarot meski Jarot jauh di Surabaya sedangakan Istiqomah ada di Alas Abang.
ü  Setting social adalah setting yang terkait dengan kehidupan kemasyarakatan. Pada sub bab ini terdapat interaksi antara bagaimana Jarot mengahadapi Putri, Savitri dengan Teguh, dan Jarot dengan Istiqomah.
v  Sudut Pandang Penceritaan
Sudut pandang adalah cara pengarang menampilkan cerita mengenai kehidupan tokoh tersebut. Sudut pandang penceritaan yang dipakai dalam hal ini adalah pencerita serba hadir. Menggunakan sudut pandang penceritaan pencerita orang pertama serba tahu, karena pengarang ikut serta dalam cerita tersebut sebagai tokoh utama.
v  Gaya Bahasa
Gaya bahasa berfungsi sebagai penyampai gagasan pengarang sekaligus sebagai penyampa perasaannya. Bisa dikatakan juga gaya bahasa adalah pilihan kata yang digunakan oleh pengarang untuk meruntutkan ceritanya agar menarik sehingga tidak menimbulkan kebosanan bagi pembaca. Gaya bahasa tidak dapat dipisahkan dari pengarang karena setiap pengarang memiliki gaya bahasa sendiri-sendiri. Mashuri adalah pengarang yang mungkin bias dikatakan pengarang yang kontemporer. Dia bisa memadukan jiwanya yang terkenal religius karena backgroundnya memang pesantren dengan bahasa yang sedikit vulgar dan langsung mengena tanpa ”aling-aling” untuk mengngkapkan apa yang ingin diungkapkannya.
            ” Kutatap tubuhnya lekat-lekat. Aku tersenyum. Indah, benar-benar indah! Baru kali ini aku melihat dari dekat tubuh Putri dalam keadaan telanjang. Tampak bercahaya, tertimpa lampu tidur temaram yang yang dipasang sedemikian rupa.” (Hubbu:68)

3. Kesimpulan
Nilai objektif pada sub bab ” Mawar Hitam” dalam novel Hubbu karya Mashuri ditunjukkan oleh unsur intrinsik pembangun cerita tersebut yaitu tema, tokoh, alur, setting, sudup pandang penceritaan, dan gaya bahasa.
Tema dalam sub ini adalah feminisme meski ada nilai moral yang terkandung.
Dalam sub bab ini juga terdapat tokoh. Tokoh utama Jarot dan Putri dan Jarot. Sedangkan tokoh pariferal adalah Savitri, Teguh, dan Istiqomah.
Alur yang dipakai adalah alur maju
Setting yang dipakai juga terdapat setting waktu, tempat, dan sosial
Sudut pandang yang dipakai oleh pengarang adalah orang pertama serba tahu
Gaya bahasa yang digunakan juga religius meski terdapat sedikit vulgar.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar