1. Pengantar
Kumpulan cerpen 18 Fiksi Di Ranjang Bayi karya N Riantiarno menceritakan sekaligus membicarakan tentang keinginan manusia untuk menguasai satu dengan lainnya dengan caranya sendiri. Ingin menguasai merupakan keadaan psikologi manusia bahwa secara tidak sadar dia merasa dirinyalah yang paling unggul dan baik serta pantas untuk menjadi seorang pemimpin atau penguasa. Keadaan manusia yang secara tidak sadar itulah menjadi objek Sigmund Freud dalam kajian psikoanalisis. Dalam kumpulan cerpen tersebut juga dibahas tentang bagaimana manusia menghadapi segala permasalahan sosialnya dan mekanisme ketahanan untuk terus bisa berlanjut dalam kehidupannya. Hal ini juga dikaji dalam psikoanalisis.
Psikoanalisis adalah cabang ilmu yang dikembangkan oleh Sigmund Freud dan para pengikutnya, sebagai studi fungsi dan perilaku psikologis manusia. Psikoanalisis memiliki tiga penerapan: 1) suatu metoda penelitian dari pikiran; 2) suatu ilmu pengetahuan sistematis mengenai perilaku manusia; dan 3) suatu metoda perlakuan terhadap penyakit psikologis atau emosional.[1] Dalam cakupan yang luas dari psikoanalisis ada setidaknya 20 orientasi teoretis yang mendasari teori tentang pemahaman aktivitas mental manusia dan perkembangan manusia. Berbagai pendekatan dalam perlakuan yang disebut "psikoanalitis" berbeda-beda sebagaimana berbagai teori yang juga beragam. Sebagai tambahan, istilah psikoanalisis juga merujuk pada metoda penelitian terhadap perkembangan anak.
Psikoanalisis dianggap sebagai salah satu gerakan revolusioner di bidang psikologi yang dimulai dari satu metode penyembuhan penderita sakit mental, hingga menjelma menjadi sebuah konsepsi baru tentang manusia. Hipotesis pokok psikoanalisa menyatakan bahwa tingkah laku manusia sebahagian besar ditentukan oleh motif-motif tak sadar, sehingga Freud dijuluki sebagai bapak penjelajah dan pembuat peta ketidaksadaran manusia.
2. Persepsi tentang sifat manusia
Menurut Sigmund Freud, perilaku manusia itu ditentukan oleh kekuatan irrasional yang tidak disadari dari dorongan biologis dan dorongan naluri psikoseksual tertentu pada masa enam tahun pertama dalam kehidupannya. Pandangan ini menunjukkan bahwa aliran teori Freud tentang sifat manusia pada dasarnya adalah deterministik. Namun demikian menurut Gerald Corey yang mengutip perkataan Kovel, bahwa dengan tertumpu pada dialektika antara sadar dan tidak sadar, determinisme yang telah dinyatakan pada aliran Freud luluh. Lebih jauh Kovel menyatakan bahwa jalan pikiran itu adalah ditentukan, tetapi tidak linier. Ajaran psikoanalisis menyatakan bahwa perilaku seseorang itu lebih rumit dari pada apa yang dibayangkan pada orang tersebut. Di sini, Freud memberikan indikasi bahwa tantangan terbesar yang dihadapi manusia adalah bagaimana mengendalikan dorongan agresif itu. Bagi Sigmund Freud, rasa resah dan cemas seseorang itu ada hubungannya dengan kenyataan bahwa mereka tahu umat manusia itu akan punah.
Tetapi dalam cerpen yang berjudul “ Maria Melati “ sungguh tragis. Karena seeorang artis tahun ‘jadul’ atau jaman dulu yang tidak mempersiapkan diri untuk bersaing ke tahun yang akan datang sehingga ketika berdatangan artis-artis baru dia tidak siap dan harus terbuang tidak berarti. Dalam hal ini, tokoh utama, Maria, tidak bisa mengendalikan dorongan agresif yaitu ingin tetap hidup bersenag-senang tanpa memerdulikan keadaannya yang sekarang sudah tidak lagi laku dalam dunia keartisan.
“ Pengahsilan menipis, tapi gaya hidup tetap dipertahankan. Lama kelamaan, Maria ibarat kerbau yang tak sanggup menanggung beban berat dari tanduknya sendiri...... Lalu, satu persatu harta dijual. Maria bagai seekor merpati yang terbang sendirian dibelantara persaingan. Tak ada lagi yang sudi mendukung kariernya.” (N Riantiarno, 2005:39)
Jelas bahwa tokoh Maria hanya mencemaskan bagaimana agar bisa hidup senang dan berkecukupan tanpa ada usaha untuk mempertahankan, serta dia tidak menyadari bahwa yang dia punya semuanya pasti akan punah juga seperti kariernya.
3. Struktur Kepribadian
Dalam teori psikoanalitik, struktur kepribadian manusia itu terdiri dari id, ego dan superego. Id adalah komponen kepribadian yang berisi impuls agresif dan libinal, dimana sistem kerjanya dengan prinsip kesenangan “pleasure principle”. Ego adalah bagian kepribadian yang bertugas sebagai pelaksana, dimana sistem kerjanya pada dunia luar untuk menilai realita dan berhubungan dengan dunia dalam untuk mengatur dorongan-dorongan id agar tidak melanggar nilai-nilai superego. Superego adalah bagian moral dari kepribadian manusia, karena ia merupakan filter dari sensor baik- buruk, salah- benar, boleh- tidak sesuatu yang dilakukan oleh dorongan ego.
Dalam salah satu cerpen yang berjudul “Kanti” tokoh utama Kanti tidak bisa menahan id nya saat dia berdua dengan Prami pacarnya. Padahal Kanti adalah wanita yang sangat menjaga dirinya dari godaan dan perbuatan yang semestinya tidak patut dikerjakan. Dia juga tidak gampang menyerahkan hati sebelum yakin pilihan tidak meleset.
“......Bibir kami hanya terpisah dua senti barangkali. Dekat sekali aku bisa merasakan nafasnya yang hangat dan bau kelakian. Aku gemetar, mungkin karena menahan hasrat. Tapi secepat kucing dia melahap bibirku tak ada yang bisa kulakukan selaian membalas......” (N Riantiarno, 2005:129)
Tokoh Kanti tahu bahwa berciuman bagi yang belum menikah adalah berdosa. Egonya telah dikuasai oleh id. Tetapi pada akhirnya dia juga mengingkari perbuatannya itu amat menjijikkan. Superego datang setelah kejadian usai.
“......Ciuman pertamaku itu menjijikkan. Mengapa pernyataan cinta harus dilakukan dengan cara berciuman?. Apa dia sudah menggosok gigi? Dan kami terpaksa saling bertukar ludah. Bagaimana kalau ludahnya menyimpan virus atau baksil? Berciuman adalah kegiatan tidak masuk akal.” (N Riantiarno, 2005:129)
Gerald Corey menyatakan dalam perspektif aliran Freud ortodoks, manusia dilihat sebagai sistem energi, dimana dinamika kepribadian itu terdiri dari cara-cara untuk mendistribusikan energi psikis kepada id, ego dan super ego, tetapi energi tersebut terbatas, maka satu diantara tiga sistem itu memegang kontrol atas energi yang ada, dengan mengorbankan dua sistem lainnya, jadi kepribadian manusia itu sangat ditentukan oleh energi psikis yang menggerakkan.
Menurut Calvil S. Hall dan Lindzey, dalam psikodinamika masing-masing bagian dari kepribadian total mempunyai fungsi, sifat, komponen, prinsip kerja dinamika dan mekanisme tersendiri, namun semuanya berinteraksi begitu erat satu sama lainnya, sehingga tidak mungkin dipisahkan. Id bagian tertua dari aparatur mental dan merupakan komponen terpenting sepanjang hidup. Id dan instink-instink lainnya mencerminkan tujuan sejati kehidupan organisme individual. Jadi id merupakan pihak dominan dalam kemitraan struktur kepribadian manusia.
Menurut S. Hall dan Lindzey juga, dalam Sumadi Suryabarata, cara kerja masing-masing struktur dalam pembentukan kepribadian adalah:
(1) apabila rasa id-nya menguasai sebagian besar energi psikis itu, maka pribadinya akan bertindak primitif, implusif dan agresif dan ia akan mengubar impuls-impuls primitifnya. (2) apabila rasa ego-nya menguasai sebagian besar energi psikis itu, maka pribadinya bertindak dengan cara-cara yang realistik, logis, dan rasional.
(3) Dan apabila rasa super ego-nya menguasai sebagian besar energi psikis itu, maka pribadinya akan bertindak pada hal-hal yang bersifat moralitas, mengejar hal-hal yang sempurna yang kadang-kadang irrasional.
Jadi untuk lebih jelasnya sistem kerja ketiga struktur kepribadian manusia tersebut adalah: Pertama, Id merupakan sistem kepribadian yang orisinil, dimana ketika manusia itu dilahirkan ia hanya memiliki Id saja, karena ia merupakan sumber utama dari energi psikis dan tempat timbulnya instink. Id tidak memiliki organisasi, buta, dan banyak tuntutan dengan selalu memaksakan kehendaknya. Seperti yang ditegaskan oleh A. Supratika, bahwa aktivitas Id dikendalikan oleh prinsip kenikmatan dan proses primer. Kedua, Ego mengadakan kontak dengan dunia realitas yang ada di luar dirinya. Di sini ego berperan sebagai “eksekutif” yang memerintah, mengatur dan mengendalikan kepribadian, sehingga prosesnya persis seperti “polisi lalulintas” yang selalu mengontrol jalannya id, super- ego dan dunia luar. Ia bertindak sebagai penengah antara instink dengan dunia di sekelilingnya. Ego ini muncul disebabkan oleh kebutuhan-kebutuhan dari suatu organisme, seperti manusia lapar butuh makan. Jadi lapar adalah kerja Id dan yang memutuskan untuk mencari dan mendapatkan serta melaksanakan itu adalah kerja ego. Sedangkan yang ketiga, superego adalah yang memegang keadilan atau sebagai filter dari kedua sistem kepribadian, sehingga tahu benar-salah, baik-buruk, boleh-tidak dan sebagainya. Di sini superego bertindak sebagai sesuatu yang ideal, yang sesuai dengan norma-norma moral masyarakat.
4. Kesadaran dan ketidaksadaran
Freud tertarik dan belajar hipnotis di Perancis, lalu menggunakannya untuk membantu penderita penyakit mental. Freud kemudian meninggalkan hipnotis setelah ia berhasil menggunakan metode baru untuk menyembuhkan penderita tekanan Psikologis yaitu asosiasi bebas dan analisis mimpi. Dasar terciptanya metode tersebut adalah dari konsep alam bawah sadar. Asosiasi bebas adalah metode yang digunakan untuk mengungkap masalah-masalah yang ditekan oleh diri seseorang namun terus mendorong keluar secara tidak disadari hingga menimbulkan permasalahan. Sedangkan Analisis Mimpi, digunakan oleh Freud dari pemahamannya bahwa mimpi merupakan pesan alam bawah sadar yang abstrak terhadap alam sadar, pesan-pesan ini berisi keinginan, ketakutan dan berbagai macam aktifitas emosi lain, hingga aktifitas emosi yang sama sekali tidak disadari. Sehingga metode Analisis Mimpi dapat digunakan untuk mengungkap pesan bawah sadar atau permasalahan terpendam, baik berupa hasrat, ketakutan, kekhawatiran, kemarahan yang tidak disadari karena ditekan oleh seseorang. Ketika hal masalah-masalah alam bawah sadar ini telah berhasil di-ungkap, maka untuk penyelesaian selanjutnya akan lebih mudah untuk diselesaikan.
Pemahaman tentang kesadaran dan ketidaksadaran manusia merupakan salah satu sumbangan terbesar dari pemikiran Freud. Menurutnya, kunci untuk memahami perilaku dan problema kepribadian bermula dari hal tersebut. Ketidakasadaran itu tidak dapat dikaji langsung, karena perilaku yang muncul itu merupakan konsekuensi logisnya. Menurut Gerald Corey, bukti klinis untuk membenarkan alam ketidaksadaran manusia dapat dilihat dari hal-hal berikut, seperti: (1) mimpi; hal ini merupakan pantulan dari kebutuhan, keinginan dan konflik yang terjadi dalam diri, (2) salah ucap sesuatu; misalnya nama yang sudah dikenal sebelumnya, (3) sugesti pasca hipnotik, (4) materi yang berasal dari teknik asosiasi bebas, dan (5) materi yang berasal dari teknik proyeksi, serta isi simbolik dari simptom psikotik.
Sedangkan kesadaran itu merupakan suatu bagian terkecil atau tipis dari keseluruhan pikiran manusia. Hal ini dapat diibaratkan seperti gunung es yang ada di bawah permukaan laut, dimana bongkahan es itu lebih besar di dalam ketimbang yang terlihat di permukaan. Demikianlah juga halnya dengan kepribadian manusia, semua pengalaman dan memori yang tertekan akan dihimpun dalam alam ketidaksadaran.
Dalam cerpen berjudul “Ojah”, tokoh Ojah yang menikah muda, wajar saja jika masih suka berdandan, mengaca depan cermin, dan membaca lagi novel-novel cinta remaja koleksinya yang dibelinya sebelum menikah. Dia ingin menjadi bintang film. Dan dia membutuhkan seseorang untuk bisa membantunya. Datanglah Ucup yang kabarnya bekerja di perusahaan film. Ojah tidak sadar bahwa Ucup tidak hanya mau untuk membantu Ojah tetapi juga ingin melampiaskan hasrat nafsunya. (halaman 58)
Cerpen lain yang berjudul “Luka”, tokoh suami menahan lukanya yang sangat menyakitkan dan menghantuinya selama bertahun-tahun yaitu ketika istrinya bercinta dengan lelaki lain dan ketika dipergoki oleh sang suami wajah Lelaki itu hanya menyeringai . Pada awalnya menahan dan mencoba untuk memaafkan istrinya Serta mengulang dari awal untuk melakukan kehidupan rumah tangga yang bahagia. Tetapi dia tidak sadar bahwa semakin ditahan dan dipendam, dan berharap hilang dengan bersenang-senang dengan istrinya, luka itu justru terus terbayang dan seringaian Lelaki itu yang menghantuinya setiap waktu. Pada puncaknya, akhirnya sang suami tidak kuat lagi menahan luka itu serta memutuskan untuk berpisah dengan istrinya.
“Tadinya aku mengira itu lantaran kecemburuan yang terlalu besar. Tapi ketika otak jernih, bukan, bukan hanya kecemburuan. Menyangkut banyak hal. Martabatku sebagai lelaki. Penghianatan terhadap ikrar cinta kita. Dan aku makin yakin. Maafkan kalau aku terlanjur bicara kasar.” ( N Riantiarno, 2005:17)
Jika saja sang suami mengutarakan dari awal apa yang telah dirasakan bertahun-tahun lamanya, maka tidak akan rasa dihantui atau menhantui diri sendiri. Penyelesaian bisa dengan menggunakan metode analisis mimpi mengungkap pesan bawah sadar atau permasalahan terpendam, baik berupa hasrat, ketakutan, kekhawatiran, kemarahan yang tidak disadari karena ditekan oleh seseorang. Ketika hal masalah-masalah alam bawah sadar ini telah berhasil di-ungkap, maka untuk penyelesaian selanjutnya akan lebih mudah untuk diselesaikan. Tidak akan ada kata berpisah, melukai dan dilukai.
5. Kecemasan dan Mekanisme pertahanan ego
Bagian yang tidak kalah penting dari teori Freud adalah tentang kecemasan. Gerald Corey mengartikan kecemasan itu adalah sebagai suatu keadaan tegang yang memaksa kita untuk berbuat sesuatu. Kecemasan ini menurutnya berkembang dari konflik antara sistem id, ego dan superego tentang sistem kontrol atas energi psikis yang ada. Fungsinya adalah mengingatkan adanya bahaya yang datang.
Sedangkan menurut Calvin S. Hall dan Lindzey, kecemasan itu ada tiga: kecemasan realita, neurotik dan moral. (1) kecemasan realita adalah rasa takut akan bahaya yang datang dari dunia luar dan derajat kecemasan semacam itu sangat tergantung kepada ancaman nyata. (2) kecemasan neurotik adalah rasa takut kalau-kalau instink akan keluar jalur dan menyebabkan sesorang berbuat sesuatu yang dapat mebuatnya terhukum, dan (3) kecemasan moral adalah rasa takut terhadap hati nuraninya sendiri. Orang yang hati nuraninya cukup berkembang cenderung merasa bersalah apabila berbuat sesuatu yang bertentangan dengan norma moral.
Maka untuk menghadapi tekanan kecemasan yang berlebihan, sistem ego terpaksa mengambil tindakan ekstrim untuk menghilangkan tekanan itu. Tindakan yang demikian itu, disebut mekanisme pertahanan, sebab tujuannya adalah untuk mempertahankan ego terhadap tekanan kecemasan. Dalam teori Freud, bentuk-bentuk mekanisme pertahanan yang penting adalah: (1) represi; ini merupakan sarana pertahanan yang bisa mengusir pikiran serta perasaan yang menyakitkan dan mengancam keluar dari kesadaran, (2) memungkiri; ini adalah cara mengacaukan apa yang dipikirkan, dirasakan, atau dilihat seseorang dalam situasi traumatik, (3) pembentukan reaksi; ini adalah menukar suatu impuls atau perasaan yang menimbulkan kecemasan dengan melawannya dalam kesadaran, (4) proyeksi; ini berarti memantulkan sesuatu yang sebenarnya terdapat dalam diri kita sendiri ke dunia luar, (5) penggeseran; merupakan suatu cara untuk menangani kecemasan dengan menyalurkan perasaan atau impuls dengan jalan menggeser dari objek yang mengancam ke “sasaran yang lebih aman”, (6) rasionalisasi; ini cara beberapa orang menciptakan alasan yang “masuk akal” untuk menjelaskan disingkirnya ego yang babak belur, (7) sublimasi; ini suatu cara untuk mengalihkan energi seksual kesaluran lain, yang secara sosial umumnya bisa diterima, bahkan ada yang dikagumi, (8) regresi; yaitu berbalik kembali kepada prilaku yang dulu pernah mereka alami, (9) introjeksi; yaitu mekanisme untuk mengundang serta “menelaah” sistem nilai atau standar orang lain, (10) identifikasi, (11) konpensasi, dan (12) ritual dan penghapusan.
Dalam cerpen yang berjudul “Kebohongan di Atas Atap” Gamal yang kaya raya dan sangat terkenal mengalami kecemasan realita kut terancam citra baiknya akan hancur, sehingga dia terkena serangan jantung. Digambarkan raga Gamal yang sakit dan tidak berdaya di atas ranjang, tetapi jiwa Gamal sedang berdialog dengan gadis kecil. Dari dialog itu tenyata kecemasan Gamal adalah ketakutan akibat selalu saja membohongi masyarakat dan berhasil tetapi dia tidak berhasil membohongi dirinya sendiri. Kecemasan itu dimulai dari anak gadisnya yang ingin menikah dengan sesama jenis dan istrinya yang punya hubungan gelap dengan lelaki lain (halaman 182-183). Dalam menghadapi kecemasan itu, Gamal mengambil tindakan untuk menghilangkan rasa kecemasan atau mekanisme ketahanan represi yakni mengusir kecemasan dengan mengungkapkan semua kebohongan yang pernah ia lakukan dan berusaha untuk berkata jujur pada gadis kecil itu dan kepada diri sendiri.
Tokoh Is dalam cerpen yang berjudul “Dua Cinta” juga mengalami kecemasan realita juga karena telah ditinggal oleh Sis, suaminya. Meski diolok-olok oleh As, tokoh saingannya dulu untuk mendapatkan cinta Sis. Is hanya bisa diam seribu bahasa saat As mengatakan dan mengancam bahwa dirinyalah yang telah menghancurkan cintanya kepada Sis dan As akan membalasnya. Tapi tokoh Is sadar bahwa melawan As serta memikirkan telah ditinggal Sis adalah hal yang sia-sia. Maka dia memutuskan untuk merepresi dan memungkiri semuanya.
“....perkawinannya dengan Sis hanya berjalan satu tahun. Ternyata Sis sudah menikah dan punya dua anak. Is dan Sis berpisah baik-baik. Sesudah itu, Is tidak pernah tahu dimana Sis tinggal. Is tetap mencintai Sis dan berniat tidak menikah lagi. Perkawinannya dengan Sis tidak dianugrahi anak. Kini dia harus bekerja keras agar hidup bisa dilanjutkan. ” ( N Riantiarno, 2005:12)
Dalam menjalani mekanisme ketahanan itu tidak semua orang bisa. Banyak sekali yang mengalami kegagalan sehingga menjadi stes dan bahkan hilang ingatan / gila. Seperti tokoh Hira atau nama panjangnya Suhira dalam cerpen yang berjudul “Hira “. Kecemasan itu berawal dari pernikahan dengan suaminya yang tidak pernah terurus karena suaminya tidak pernah ada dirumah. Tetapi Hira tidak protes karena Hira tidak mampu untuk mengingat semua kejadian yang dia alami. Dan juga tentang rumahnya kebakaran serta api melahap anak-anaknya yang masih didalam rumah. Hira mengalami traumatik yang sangat dalam. (halaman 66-67). Seharusnya Hira mampu untuk memungkiri tentang apa yang masih dirasakan dan menjadi pikirannya. Tetapi Hira tidak mampu untuk melakukan ketahanan dirinya agar tidak terus-menerus larut larut dalam kesedihan dan permasalahan. Akhirnya Hira menjadi seorang yang gila.
“Hira mulai teriak kapanpun dia mau. Lalu pak RW dibantu petugas koramil, merangketnya. Itu akibat laporan para tetangga. Konon, Hira coba membakar rumah kontrakannya sendiri. Hira pun dijebloskan ke rumah sakit jiwa.” ( N Riantiarno, 2005:68)
6. Perkembangan kepribadian
Perkembangan manusia dalam psikoanalitik merupakan suatu gambaran yang sangat teliti dari proses perkembangan psikososial dan psikoseksual, mulai dari lahir sampai dewasa. Dalam teori Freud setiap manusia harus melewati serangkaian tahap perkembangan dalam proses menjadi dewasa. Tahap-tahap ini sangat penting bagi pembentukan sifat-sifat kepribadian yang bersifat menetap.
Menurut Freud, kepribadian orang terbentuk pada usia sekitar 5-6 tahun (dalam A.Supratika), yaitu: (1) tahap oral, (2) tahap anal: 1-3 tahun, (3) tahap palus: 3-6 tahun, (4) tahap laten: 6-12 tahun, (5) tahap genetal: 12-18 tahun, (6) tahap dewasa, yang terbagi dewasa awal, usia setengah baya dan usia senja.
7. Kesimpulan
Apabila menyimak konsep kunci dari teori kepribadian Sigmund Freud, maka ada beberapa teorinya yang dapat aplikasikan dalam bimbingan, yaitu: Pertama, konsep kunci bahwa ”manusia adalah makhluk yang memiliki kebutuhan dan keinginan”. Konsep ini dapat dikembangkan dalam proses bimbingan, dengan melihat hakikatnya manusia itu memiliki kebutuhan-kebutuhan dan keinginan-keinginan dasar. Dengan demikian konselor dalam memberikan bimbingan harus selalu berpedoman kepada apa yang dibutuhkan dan yang diinginkan oleh konseli, sehingga bimbingan yang dilakukan benar-benar efektif. Hal ini sesuai dengan fungsi bimbingan itu sendiri. Mortensen (dalam Yusuf Gunawan) membagi fungsi bimbingan kepada tiga yaitu: (1) memahami individu (understanding-individu), (2) preventif dan pengembangan individual, dan (3) membantu individu untuk menyempurnakannya.
Kedua, konsep kunci tentang “kecemasan” yang dimiliki manusia dapat digunakan sebagai wahana pencapaian tujuan bimbingan, yakni membantu individu supaya mengerti dirinya dan lingkungannya; mampu memilih, memutuskan dan merencanakan hidup secara bijaksana; mampu mengembangkan kemampuan dan kesanggupan, memecahkan masalah yang dihadapi dalam kehidupannya; mampu mengelola aktivitasnya sehari-hari dengan baik dan bijaksana; mampu memahami dan bertindak sesuai dengan norma agama, sosial dalam masyarakatnya. Dengan demikian kecemasan yang dirasakan akibat ketidakmampuannya dapat diatasi dengan baik dan bijaksana. Karena menurut Freud setiap manusia akan selalu hidup dalam kecemasan, kecemasan karena manusia akan punah, kecemasan karena tidak dapat bersosialisasi dengan lingkungan dan banyak lagi kecemasan-kecemasan lain yang dialami manusia, jadi untuk itu maka bimbingan ini dapat merupakan wadah dalam rangka mengatasi kecemasan.
Ketiga, konsep psikolanalisis yang menekankan pengaruh masa lalu (masa kecil) terhadap perjalanan manusia. Walaupun banyak para ahli yang mengkritik, namun dalam beberapa hal konsep ini sesuai dengan konsep pembinaan dini bagi anak-anak dalam pembentukan moral individual. Dalam sistem pemebinaan akhlak individual, Islam menganjurkan agar keluarga dapat melatih dan membiasakan anak-anaknya agar dapat tumbuh berkembang sesuai dengan norma agama dan sosial. Norma-norma ini tidak bisa datang sendiri, akan tetapi melalui proses interaksi yang panjang dari dalam lingkungannya. Bila sebuah keluarga mampu memberikan bimbingan yang baik, maka kelak anak itu diharapkan akan tumbuh menjadi manusia yang baik. Dalam hal ini sebuah hadis Nabi menyatakan bahwa “Setiap anak yang dilahirkan dalam keadaan fitrah, hingga lisannya fasih. Kedua orangtuanyalah yang ikut mewarnainya sampai dewasa.” Selain itu seorang penyair menyatakan bahwa “Tumbuhnya generasi muda kita seperti yang dibiasakan oleh ayah-ibunya”. Hadis dan syair tersebut di atas sejalan dengan konsep Freud tentang kepribadian manusia yang disimpulkannya sangat tergantung pada apa yang diterimanya ketika ia masih kecil. Namun tentu saja terdapat sisi-sisi yang tidak begitu dapat diaplikasikan, karena pada hakikatnya manusia itu juga bersifat baru.
Keempat, teori Freud tentang “tahapan perkembangan kepribadian individu” dapat digunakan dalam proses bimbingan, baik sebagai materi maupun pendekatan. Konsep ini memberi arti bahwa materi, metode dan pola bimbingan harus disesuaikan dengan tahapan perkembangan kepribadian individu, karena pada setiap tahapan itu memiliki karakter dan sifat yang berbeda. Oleh karena itu konselor yang melakukan bimbingan haruslah selalu melihat tahapan-tahapan perkembangan ini, bila ingin bimbingannya menjadi efektif.
Kelima, konsep Freud tentang “ketidaksadaran” dapat digunakan dalam proses bimbingan yang dilakukan pada individu dengan harapan dapat mengurangi impuls-impuls dorongan Id yang bersifat irrasional sehingga berubah menjadi rasional.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar