Ø Pengantar
Film king Arthur yang berlatar belakang tanah Inggris pada Abad ke-5 ini, dimulai dari kisah para ksatria Sarmatia di Eropa Timur yang selama beberapa generasi memilih mengabdi pada Kekaisaran Roma. Untuk memperkuat kekuasaan Roma, para ksatria Sarmatia yang terkenal kuat dan tangguh menyebar untuk memperkuat posisi di kawasan Mesir hingga Inggris. Pengabdian kepada Roma yang dipimpin oleh Paus Germanius pada saat itulah, yang yang akhirnya diteruskan dari generasi ke generasi. Pengabdian yang berupa peperangan dan mendapatkan surat jaminan kebebasan. Hanya dengan cara ini perdamaian dan kelangsungan hidup kaum Sarmatia tetap berlangsung. Sayang, pada abad ke-5 kejayaan Roma mulai memudar. Paus yang akan meneruskan generasi Paus Germanius, Alecto telah ditahan oleh musuh yakni pasukan Woad, pasukan yang berontak dengan kekuasaan Roma. Tapi pada akhirnya, Alecto diserahkan kepada kesatria karena mereka ingin bergabung untuk melawan pasukan Saxon yang kejam dan tiada kenal ampun. Dan di Inggris ini, kaum Saxon bersiap untuk menyerang dari wilayah Utara.
Genderang perang pun mulai ditabuh. Di bawah komando lelaki berdarah Roma-Inggris, Lucius Artorius Castus , para ksatria tangguh: Lancelot, Gawain, Galahad, Bors, Tristan dan Dagonet, memilih bertempur mempertahankan tanah Inggris dan berperang melawan Saxon. Dari sinilah, adegan berdarah-darah itu mulai ditabur. Sosok Lucius Artorius Castus segera mendominasi arena. Ia tampil sebagai pemimpin yang cakap, tegas dan juga punya charisma. Artorius, yang kelak dikenal sebagai King Arthur, rupanya jatuh cinta dengan gadis jelita yang diselamatkannya dari sebuah tahanan bawah tanah. Sebagai wujud balas jasa, gadis yang diketahui bernama Guinevere itu, akhirnya jatuh pada pelukan Artorius.
Dari sini akan dibahas tentang kekawatiran Artorius sebelum berperang dengan pasukan Saxon, tetapi kekawatiran itu berangsur-angsur reda karena dia bisa mengungkapkan segala ketakutan dan kekawatirannya kepada Guinevere dan dari situ dia mendapatkan kepercayaan diri untuk berperang dan mengatur strategi.
Ø Teori dan Pembahasan
Sigmund Freud adalah seorang neurolog Austria dan pendiri aliran psikoanalisis dalam psikologi, gerakan yang memopulerkan teori bahwa motif tak sadar mengendalikan sebagian besar perilaku. Selain itu ia juga memberikan pernyataan pada awalnya bahwa prilaku manusia didasari pada hasrat seksualitas pada awalnya (eros) dan yang pada awalnya dirasakan oleh manusia semenjak kecil dari Ibunya. Pengalaman seksual dari Ibu, seperti menyusui, selanjutnya mengalami perkembangannya atau tersublimasi hingga memunculkan berbagai prilaku lain yang disesuaikan dengan aturan norma masyarakat atau norma Ayah.
Bagian yang tidak kalah penting dari teori Freud adalah tentang kecemasan. Gerald Corey mengartikan kecemasan itu adalah sebagai suatu keadaan tegang yang memaksa kita untuk berbuat sesuatu. Kecemasan ini menurutnya berkembang dari konflik antara sistem id, ego dan superego tentang sistem kontrol atas energi psikis yang ada. Fungsinya adalah mengingatkan adanya bahaya yang datang.
Sedangkan menurut Calvin S. Hall dan Lindzey, kecemasan itu ada tiga: kecemasan realita, neurotik dan moral. (1) kecemasan realita adalah rasa takut akan bahaya yang datang dari dunia luar dan derajat kecemasan semacam itu sangat tergantung kepada ancaman nyata. (2) kecemasan neurotik adalah rasa takut kalau-kalau insting akan keluar jalur dan menyebabkan sesorang berbuat sesuatu yang dapat mebuatnya terhukum, dan (3) kecemasan moral adalah rasa takut terhadap hati nuraninya sendiri. Orang yang hati nuraninya cukup berkembang cenderung merasa bersalah apabila berbuat sesuatu yang bertentangan dengan norma moral.
Dalam film ini tokoh artorius sangat ketakutan sekali dengan peperangan yang akan datang setelah teman-temannya mendapat surat kebebasan. Dia khawatir dengan keaadaan Inggris selanjutnya yang telah ia perjuangkan selama bertahun-tahun untuk mendapat “ kebebasan “ di Inggris setelah diserbu pasukan Saxon yang jumlahnya tidak terkira dan kejam. Dalam hal ini Artorius mengalami kecemasan realita. Rasa takut yang bahaya dari luar yaitu serangan Saxon dan kesengasaraan apa yang akan terjadi setelah peperangan dengan dia sendirian tanpa teman-temannya disampingnya yang akan kembali ke tanah kelahirannya.
Untuk menghadapi tekanan kecemasan yang berlebihan, sistem ego terpaksa mengambil tindakan ekstrim untuk menghilangkan tekanan itu. Tindakan yang demikian itu, disebut mekanisme pertahanan, sebab tujuannya adalah untuk mempertahankan ego terhadap tekanan kecemasan. Dalam teori Freud, bentuk-bentuk mekanisme pertahanan yang penting adalah: (1) represi; ini merupakan sarana pertahanan yang bisa mengusir pikiran serta perasaan yang menyakitkan dan mengancam keluar dari kesadaran, (2) memungkiri; ini adalah cara mengacaukan apa yang dipikirkan, dirasakan, atau dilihat seseorang dalam situasi traumatik, (3) pembentukan reaksi(reaction formation); ini adalah menukar suatu impuls atau perasaan yang menimbulkan kecemasan dengan melawannya dalam kesadaran, (4) proyeksi; ini berarti memantulkan sesuatu yang sebenarnya terdapat dalam diri kita sendiri ke dunia luar, (5) penggeseran; merupakan suatu cara untuk menangani kecemasan dengan menyalurkan perasaan atau impuls dengan jalan menggeser dari objek yang mengancam ke “sasaran yang lebih aman”, (6) rasionalisasi; ini cara beberapa orang menciptakan alasan yang “masuk akal” untuk menjelaskan disingkirnya ego yang babak belur, (7) sublimasi; ini suatu cara untuk mengalihkan energi seksual kesaluran lain, yang secara sosial umumnya bisa diterima, bahkan ada yang dikagumi, (8) regresi; yaitu berbalik kembali kepada prilaku yang dulu pernah mereka alami, (9) introjeksi; yaitu mekanisme untuk mengundang serta “menelaah” sistem nilai atau standar orang lain, (10) identifikasi, (11) konpensasi, dan (12) ritual dan penghapusan.
Malam sebelum besoknnya untuk perang, dia mencoba untuk memungkiri kekhawatiran itu. Dia harus bisa menghilangkan segala ketakutannya untuk mempertahan Inggris agar tidak jatuh ke tangan Saxon dengan bantuan pasukan Woad. Dan saat kekhawatiran itu tengah melanda, Guinevere datang untuk menghiburnya, mencoba pendekatan agar Artorius mengatakan apa yang sedang dialaminya dan dipikirkannya. Serta keduanya sempat melakukan seks agar mencipatakan suasana yang tidak tegang dan lebih rileks. Dalam proses ketahanan diri ini ini Artorius telah mengalami penggeseran, yakni kecemasannya disalurkan ke seks yang dirasa aman bagi dirinya dan Guinevere. Kecemasan yang dirasakan itu hilang besoknya saat perang walaupun dia menganggap teman-temannya tidak akan membantunya. Terbukti kecemasannya itu hilang saat peperangan dimulai dan dalam menghadapi pasukan Saxon yang jika dinalar pasukan Artorius akan kalah. Tetapi dalam perang itu pasukan Artorius menang karena strategi yang jenius dan berpengalaman dengan bantuan teman-temannya, walaupun bebarapa kstrianya ada yang gugur.
Ø Kesimpulan
Kesimpulannya adalah dalam menghadapi kecemasannya, Artorius berusaha untuk memungkirinya. Proses memungkiri itu merupakan mekanisme pertahanan. Yang mana sistem ego terpaksa mengambil tindakan ekstrim untuk menghilangkan tekanan itu. Dan selain memungkirinya Artorius juga saat melakukan seks dengan Gienevere adalah mekanisme pertahanan penggeseran. Dan saat pendekatan Geinevere dan ungkapan kekawatiran Artorios merupakan metode analisis mimpi. Metode Analisis Mimpi dapat digunakan untuk mengungkap pesan bawah sadar atau permasalahan terpendam, baik berupa hasrat, ketakutan, kekhawatiran, kemarahan yang tidak disadari karena ditekan oleh seseorang. Ketika hal masalah-masalah alam bawah sadar ini telah berhasil di-ungkap, maka untuk penyelesaian selanjutnya akan lebih mudah untuk diselesaikan. Hal-hal ini dilakukan untuk mengembangkan sesuatu yang kini dikenal sebagai "obat dengan berbicara". Hal-hal ini menjadi unsur inti psikoanalisis. Freud terutama tertarik pada kondisi yang dulu disebut histeria dan sekarang disebut sindrom konversi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar